: Kasus Baru Covid-19 di DIY Kembali Melonjak 7 Orang, Pasien Sembuh Tambah 5 Orang Kamis, 25 Juni 2020               : Pemkot Bogor mencatat, terdapat 10 mal yang mengajukan izin beroperasi kembali di tengah pandemi corona.               : Demo penolakan UU Cipta Kerja pada tanggal 8 Oktober 2020 berpotensi meningkatkan kasus Covid-19              
Blog single photo

Intervensi Pencegahan dan Penanganan Kekurangan Zat Gizi Mikro

Sumber: Pedoman Pelaksanaan Respon Gizi Pada Masa Tanggap Darurat Bencana, Materi Inti 3 dan 7

Secara global, terdapat sekitar 2 miliar orang mengalami kekurangan zat gizi mikro. Sedangkan di Indonesia, angka prevalensi anemia pada ibu hamil karena kekurangan Zat Besi semakin meningkat. Tentunya, hal ini sangat mengkhawatirkan, karena ibu hamil yang mengalami anemia akan melahirkan bayi dengan kondisi gizi yang bermasalah juga. Kekurangan gizi mikro dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut:

  1. Diet monoton, terbatasnya keragaman pangan/ bioavailabilitas buruk.
  2. Rendahnya asupan makanan sumber hewani.
  3. Rendahnya prevalensi menyusui.
  4. Rendahnya kandungan zat gizi mikro pada Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).
  5. Meningkatnya kebutuhan  fisiologis untuk pertumbuhan (kehamilan, menyusui).
  6. Meningkatnya kebutuhan akibat infeksi akut atau infeksi kronis dan penyakit.
  7. Status gizi buruk.
  8. Malabsorpsi karena diare atau parasit usus.
  9. Peningkatan ekskresi (misalnya karena infeksi tertentu).
  10. Rendahnya ketersediaan makanan yang beragam.
  11. Rendahnya pengetahuan/pendidikan.
  12. Status ekonomi yang buruk dan kemiskinan.

Pada situasi bencana, kondisi kekurangan zat gizi miro akan berpotensi semakin memburuk. Zat gizi mikro yang paling dibutuhkan dan harus diperhatikan dalam situasi darurat adalah Vitamin A, C, D; Zat Besi, Iodium, B1 (Thiamin), B2 (Riboflavin), B3 (Niacin). Oleh karena itu, upaya yang dilakukan untuk mencegah dan menanggulanginya adalah dengan memberikan suplementasi, fortifikasi, dan pendekatan berbasis makanan bagi para penyintas.

      A. Suplementasi

Penambahan zat gizi mikro dalam bentuk yang mudah diserap tubuh seperti kapsul vitamin A, tablet Besi Folat, dll

      B. Fortifikasi

Penambahan/pengkayaan produk makanan dengan zat gizi mikro dapat menjadi strategi yang efektif untuk mencegah dan menanggulangi kekurangan gizi mikro

      C. Pendekatan Berbasis Makanan

Vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk mencegah kekurangan gizi mikro tersedia di dalam berbagai sumber pangan. Kebijakan dan program harus memastikan peningkatan variasi asupan sumber pangan kaya gizi sepanjang tahun dengan jumlah dan kualitas yang baik (tepat, aman, memadai).

Beberapa jenis bantuan pangan yang difortifikasi adalah sebagai berikut:

  • Makanan pokok seperti tepung terigu, beras. Biasanya difortifikasi dengan jenis gizi mikro terbatas seperti Zat Besi.
  • Garam secara rutin difortifikasi dengan Iodium dalam bentuk Kalium Iodat atau Kalium Iodida.
  • Minyak biasanya diperkaya dengan Vitamin A.
  • Fortified Blended Food (FBF) tidak umum di Indonesia, biasanya mengandung beberapa jenis zat gizi mikro dan  mungkin juga terdapat dalam ransum program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Dalam penerapannya, penambahan Gizi Mikro mengacu pada prinsip panduan berikut:

Prinsip Panduan 1: Anak berusia 6-59 bulan, ibu hamil dan menyusui harus menerima banyak vitamin dan mineral selama keadaan darurat karena kelompok ini secara khusus rentan terhadap penyakit vitamin dan mineral serta konsekuensinya.

Prinsip Panduan 2: Anak berusia 6-59 bulan, ibu hamil dan menyusui harus menerima tambahan rutin dari satu asupan gizi yang direkomendasikan (RNI) atau vitamin mineral utama. Anak lebih muda yang mengonsumsi makanan yang diperkaya hanya menerima dua RNI setiap minggu.

Prinsip Panduan 3: Implementasi intervensi gizi tambahan lainnya harus diikuti dengan pemberian tambahan vitamin mineral yang banyak.

Prinsip Panduan 4: Persiapan vitamin dan mineral yang banyak saat ini tersedia untuk distribusi sebagai tambahan dalam keadaan darurat, termasuk bubuk, tablet yang dapat dihancurkan dan taburan. Jenis persiapan yang digunakan harus dipilih secara hati-hati dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari tiap-tiap produk, dalam konteks dari tiap-tiap situasi khusus.

Prinsip Panduan 5: Distribusi vitamin dan mineral yang banyak harus merepresentasikan peningkatan minimum dalam beban kerja kesehatan dan pekerja kemanusiaan di lapangan, serta harus efisien biaya. 

Prinsip Panduan 6: Pendidikan dan advokasi harus terjadi beiringan dengan distribusi vitamin dan mineral yang banyak untuk memastikan keberhasilan penggunaan oleh penerima manfaat.

Prinsip Panduan 7: Pemantauan dan evaluasi yang hati-hati harus diimplementasikan sebagai bagian dari pelayanan program vitamin dan mineral yang banyak.

Prinsip Panduan 8: Pemberian vitamin dan mineral yang banyak harus terjadi hingga masa tanggap darurat berakhir dan akses terhadap makanan yang kaya akan vitamin dan mineral tercapai.

Komentar

Top