: Kasus Baru Covid-19 di DIY Kembali Melonjak 7 Orang, Pasien Sembuh Tambah 5 Orang Kamis, 25 Juni 2020               : Pemkot Bogor mencatat, terdapat 10 mal yang mengajukan izin beroperasi kembali di tengah pandemi corona.               : Demo penolakan UU Cipta Kerja pada tanggal 8 Oktober 2020 berpotensi meningkatkan kasus Covid-19              
Blog single photo

1000 Hpk copy

1000 Hari Pertama Kehidupan, Kunci Sukses Masa Depan Indonesia

 

Stunting kini menjadi topik yang menarik perhatian publik dan selalu dikaitkan dengan kurangnya asupan makan. Nyatanya, stunting tidak hanya disebabkan kurang makan saja. Secara langsung stunting dipengaruhi asupan makan dan penyakit infeksi; dan secara tidak langsung dipengaruhi pola asuh, ketahanan pangan, sanitasi, pengetahuan, dan sosial ekonomi. Tahukan Anda? prevalensi stunting di Indonesia saat ini 27,67% (SSGBI, 2019). Sementara batas permasalahan stunting untuk dikatakan sebagai masalah kesehatan masyarakat adalah 20%, artinya stunting masih menjadi ancaman serius bagi  bangsa kita.

 

Apa Dampaknya?

Dalam jurnal ilmiah The Lancet, 2013 dikatakan bahwa status gizi dan kesehatan pada periode 1000 HPK  (masa hamil hingga anak berusia 2 tahun) merupakan periode yang sangat kritis sebagai penentu kualitas kehidupan. Dampak yang ditimbulkan akibat stunting pada periode ini bersifat permanen. Dalam jangka pendek dampak yang ditimbulkan berupa gangguan perkembangan otak dan kecerdasan, pertumbuhan fisik, dan metabolisme tubuh. Dalam jangka panjang dampaknya berupa penurunan kemampuan membaca dan prestasi belajar, penurunan kekebalan tubuh, dan meningkatkan risiko terhadap rendahnya kualitas kerja, kegemukan, diabetes tipe II, jantung, stroke, dan penyakit tidak menular lainnya saat dewasa.

Merujuk pada data UNDP tahun 2019, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita saat ini berada pada ranking 111 dari 187 negara di dunia, masih jauh dibawah Singapura (9), Malaysia (61), Thailand (77), dan Filipina (106) serta sedikit diatas Vietnam (118). Sebuah tantangan besar bagi bangsa ini untuk melangkah lebih yakin dengan modal sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi era globalisasi.

 

Bagaimana Menyelamatkan 1000 HPK?

Pada kurun waktu 5 tahun kedepan, pemerintah telah menetapkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas dimana stunting menjadi salah satu isu utama, dengan target menjadi 14% pada tahun 2024. Mengingat penyebab stunting yang multidimensi, maka penangannya juga membutuhkan multisektoral sehingga kemudian dibangun Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting  2018 – 2024, yang mengedepankan 5 pilar yaitu 1) Komitmen dan Visi Kepemimpinan; 2) Kampanye Nasional dan Komunikasi Perubahan Perilaku; 3) Konvergensi, Koordinasi, dan Konsolidasi Program Pusat, Daerah, dan Desa; 4) Ketahanan Pangan dan Gizi; serta 5) Pemantauan Evaluasi.

Upaya percepatan penurunan stunting dilakukan melalui intervensi kesehatan (spesifik) dan non kesehatan (sensitif) dengan target utama kelompok 1000 HPK ditambah remaja sebagai calon ibu. Intervensi spesifik diantaranya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, suplementasi tablet tambah darah untuk ibu hamil dan remaja, promosi dan konseling pemberian makan bayi dan anak, makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita, pemberian kapsul vitamin A, tatalaksana gizi buruk serta imunisasi. Sementara itu intervensi sensitif merupakan kegiatan diluar kesehatan namun berpengaruh besar terhadap penanggulangan stunting diantaranya penyediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan, fortifikasi, serta pendidikan gizi dan kesehatan.

Sebetulnya kegiatan diatas bukanlah hal baru, namun dalam penerapannya dibutuhkan koordinasi, dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak baik pemerintah, lembaga sosial kemasyarakatan, akademisi, organisasi profesi, media massa, dunia usaha, dan mitra pembangunan. Tentu ini merupakan tantangan besar yang hanya bisa terjawab apabila semua berperan secara maksimal, sehingga kedepan kita dapat menghasilkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif sebagai modal dasar mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya saing. (YuniZ)

Komentar

Top